Pada perencanaan struktur beton dikenal adanya 2 macam limit states, yakni
Ultimit Limit States dan
Seviceability Limit States. Dalam perencanaan struktur beban di daerah perencanaan limit states designnya disebut
Capacity Design yang
berarti bahwa ragam keruntuhan struktur akibat beban gempa yang besar
ditentukan lebih dahulu dengan elemen-elemen kritisnya dipilih
sedemikian rupa agar mekanisme keruntuhannya dapat memancarkan energi
yang sebesar-besarnya.
Agar elemen-elemen kritis dapat dijamin pembentukannya secara
sempurna maka elemen-elemen lainnya harus direncanakan khusus, agar
lebih kuat dibandingkan elemen-elemen kritis. Salah satu filsafat yang
dikenal dalam perencanaan capacity design disebut
kolom kuat balok lemah.

Beban gempa merupakan beban yang sangat tidak dapat diperkirakan baik
besarnya maupun arahnya. Besarnya gaya gempa sangat ditentukan oleh
perilaku struktur tersebut. Gaya horizontal, gaya vertikal dan momen
torsi yang terjadi sangat bergantung pada waktu getar struktur dan
eksentrisitasnya antara pusat kekuatan struktur dengan pusat masa
struktur.
Dalam filosofi perencanaan struktur beton di daerah gempa dikenal
suatu konsep pembebanan 2 tingkat yakni struktur beton selama masa
layanannya akan dibebani berkali-kali oleh gempa-gempa yang kecil sampai
sedang yang mempunyai waktu ulang 20 – 50 tahun. Struktur beton selama
masa layannya mungkin harus dapat menahan beban gempa yang besar yang
waktu ulangnya dapat terjadi sekali dalam 200 tahun.
Beban gempa kecil atau sedang adalah beban gempa yang tercantum dalam
SKSNI T15 – 1991 – 03, dimana Indonesia dibagi dalam 6 zona. Besarnya
beban gempa ini tergantung dari waktu getar struktur beban tersebut.
Besarnya gaya gempa ini dinyatakan dalam :
V = C I K Wt
Keterangan :
C = Koefisien gempa dasarV = Beban geser dalam akibat gempa
I = Faktor keutamaan
K = Faktor jenis struktur
W
t = Kombinasi dari beban mati seluruhnya dan beban hidup vertikal
T = Waktu getar alami struktur gedung
Harga C dapat dicari dari diagram respon spectrum dengan mengetahui waktu getar T struktur tersebut.
Respon spektra 20 th untuk tiap zona dibagi faktor f
1 dan f
2 dengan f
2 adalah faktor kelebihan kekuatan struktur statis tak tentu dalam keadan plastis. Sedangkan f
1 adalah faktor kelebihan kekuatan struktur akibat kelebihan kekuatan akibat pada penampang beton terutama pada penulangannya.
f
1 = 1,5
f
2 =
2

Defenisi gempa besar adalah gempa dalam waktu ulang 200 th. Agar
struktur beton dapat menahan gempa yang besar ini maka dalam peraturan
SKSNI T15-1991-03 Pasal 3.14, disyaratkan agar struktur beton selain
mempunyai kekuatan yang cukup dan kekuatan yang cukup juga mempunyai
daktilitas yang besar dinyatakan dalam nilai m (daktilitas struktur).
Agar struktur beton tetap direncanakan dengan beban gempa 200
tahunan. Maka struktur beton harus mempunyai nilai daktilitas yang cukup
besar (
μ), dengan :

Bila struktur beton tidak mempunyai daktilitas yang cukup maka
perencanan struktur dapat dilakukan dengan meningkatkan nilai K (faktor
daktilitas struktur).
Dalam peraturan beton SKSNI T15-1991-03 perencanaan struktur dengan
daktilitas tingkat 2 dapat dilakukan dengan mengacu pada Pasal 3.14
SKSNI T15-1991-O3.
Agar gaya-gaya gempa yang diperhitungkan tidak terlalu besar, arahnya
cukup dapat diperkirakan, dan distribusi gaya-gayanya dapat dilakukan
secara sederhana, ketentuan-ketentuan di bawah ini sangat perlu untuk
diperhatikan dalam perencanaan struktur beton di daerah gempa.
- Tata letak struktur
- Desain kapasitas
- Pendetailan
Dengan memenuhi ketiga syarat-syarat diatas maka perencanaan struktur
di daerah rawan gempa dapat dilakukan dengan sederhana, aman dan
ekonomis.
1. TATA LETAK STRUKTUR
Agar perencanaan struktur beton dapat dilakukan dengan cara yang
sederhana (analisa statis ekivalen) tanpa melakukan analisa yang rumit
(analisa dinamis) dan perilaku struktur diharapkan sangat baik bila
dilanda gempa, maka tata letak struktur sangat penting untuk diatur.
Tentunya tidak ada suatu bentuk struktur yang sangat ideal memenuhi
semua syarat-syarat yang yang diijinkan tetapi beberapa pedoman dasar di
bawah ini dapat dipakai sebagai acuan dalam merencanakan Tata Letak
Struktur.
- Bangunan harus mempunyai bentuk yang sederhana dan simetris
- Tidak terlalu langsing baik pada denahnya maupun pada potongannya
- Distribusi kekuatan sepanjang tinggi bangunan seragam dan menerus
- Kekuatan yang cukup
Terbentuknya sendi plastis harus terjadi pada elemen-elemen horizontal lebih dahulu dibandingkan elemen vertikal.
Bentuk yang Sederhana dan Simetris
Dari pengalaman kerusakan struktur akibat gempa telah terbukti bahwa
struktur yang mempunyai bentuk yang sederhana yang lebih tahan terhadap
gempa. Ada dua alasan utama dalam pernyatan ini, yaitu :
- Kemampuan kita untuk mengerti seluruh perilaku dan struktur beton
baru pada tahapan struktur yang sederhana dibandingkan dengan struktur
yang rumit. Pada struktur yang rumit banyak hal yang tidak atau belum
diketahui.
- Kemampuan untuk mengerti detail detail struktur masih pada
tahapan-tahapan detail-detail yang sederhana. Untuk detail-detail yang
rumit masih perlu dilakukan penelitian yang mendalam.
Begitu juga dengan kesimetrisan bentuk struktur pada kedua arah
horizontal (x) dan y (vertikal) dari denah perlu diatur kesemetrisannya.
Kesimetrisan akan dapat mengakibatkan pengaruh-pengaruh torsi yang
susah diperkirakan dan dapat merusak struktur bila dilanda gempa.
Bentuk Struktur Tidak Boleh Terlalu Langsing
Makin panjang suatu struktur pada denahnya, kemungkinan terjadinya
gerakan gempa yang berlawanan pada kedua ujung-ujungnya makin besar bila
hal ini terjadi kerusakan yang besar dapat terjadi. Bila denah dari
bangunan tersebut tidak terbentuk bujur sangkar maka sebaiknya struktur
bangunan-bangunan tersebut dipisahkan. Hal ini biasa dilakukan dengan
memisahkan struktur bangunan yang panjang dalam beberapa bagian dengan
menggunakan celah yang dapat bergeser diantaranya.
Hal ini tidak mudah dilakukan karena pendetailan celah geser ini
biasanya susuah dilakukan dan celah ini harus agak lebar ± 100 mm atau
lebih untuk menghindari terbenturnya kedua bangunan. Yang juga harus
dihindari adalah adanya
reentrant corner (sudut lancip ke dalam).
Bangunan berbentuk T dan bentuk L harus
dihindari, bangunan berbentuk H meskipun simetris juga perlu dihindari
bila sayap-sayapnya terlalu lebar. Ke arah tinggi bangunan sebaiknya
kelangsingan bangunan dibatasi perbandingan tinggi / lebar > 3 atau
4, makin langsing bangunannya maka makin besar tegangan yang terjadi
akibat beban guling gempa terutama pada kolom-kolom luar yang tertekan.
Distribusi Kekuatan Sepanjang Tinggi Bangunan Seragam dan Menerus
Konsep ini sangat berhubungan dengan kesederhanaan dan kesimetrisan.
Struktur bangunan akan sangat tahan terhadap gempa bila syarat-syarat
dibawah ini dipenuhi, yaitu :
- Distribusikan secara seragam.
- Semua kolom dan dinding menerus dan tanpa pemutusan dari atap sampai ke pondasi.
- Semua balok berhubungan secara menerus.
- Balok dan kolom mempunyai sumbu yang sama.
- Baik kolom maupun baloknya mempunyai lebar yang sama.
- Penampang-penampang penahan gempa tidak boleh berubah secara tiba-tiba.
- Struktur beton harus menerus (derajat ke statis tak tertentuannya makin besar) dan harus sedapat-dapatnya monolit.
Meskipun rekomendasi di atas bukan merupakan prasyaratan mutlak,
syarat-syarat di atas terbukti apabila tidak diikuti maka struktur akan
makin mahal dan berbahaya.
Bila syarat-syarat di atas diikuti maka
struktur akan lebih handal direncanakan, konsentrasi tegangan-tegangan
yang tidak dikehendaki dapat dihindari. Pembatasan-pembatasan
syarat-syarat arsitektur dapat mengakibatkan syarat-syarat di atas tak
dapat dipenuhi, tetapi usaha yang tekun dengan berdiskusi dengan para
arsitek sejak awal dapat memberikan hasil musyawarah yang optimum.
Masalah yang amat penting dalam perencanaan struktur adalah terputusnya
elemen vertikal penahan beban gempa.
Bila hal ini terjadi maka meskipun kita dapat menggunakan perhitungan
komputer yang paling canggih pun tegangan-tegangan akibat gempa tidak
dapat dihitung secara tepat. Juga dengan batas pengetahuan kita sampai
saat ini pendetailan yang baik belum ditemukan untuk mengatasi
tegangan-tegangan yang terjadi meskipun besarnya gaya dilokasi-lokasi
yang peka tersebut dapat ditentukan, bagian struktur yang tidak menerus
ini dapat mengakibatkan keruntuhan yang disebut
soft storey.
Pada struktur kolom sebaiknya lebar balok dan lebar kolom harus sama.
Dengan mengikuti syarat-syarat ini maka pendetailannya akan lebih mudah
dan penerusan gaya-gaya dari balok ke kolom lewat pertemuannya lebih
sederhana. Banyak pengalaman kerusakan-kerusakan akibat gempa terjadi
bila elemen-elemen baloknya lebih besar dibandingkan kolom-kolomnya.
Struktur beton sebaiknya makin tinggi derajat kestatis tak tentunya,
sebab makin statis tidak tentu, jumlah sendi plastis yang dapat
memancarkan energi makin banyak.
Juga dengan membuat struktur makin monolit
dan statis tak tertentu dapat dihindari terjadinya keruntuhan setempat
yang serius akibat terjadinya konsentrasi tegangan akibat besarnya
perubahan bentuk dan rotasi bila terjadi beban gempa yang besar.
2. PENDETAILAN YANG BAIK
Banyak ahli struktur mengatakan bahwa dalam perencanaan bangunan di
daerah gempa pendetailan struktur sama pentingnya dengan analisa
struktur bahkan lebih penting. Karena beban gempa ini sangat sulit
diperkirakan dan dihitung distribusi gayanya. Ketidaktepatan perhitungan
dan perencanaan gempa akibat beban C peraturan masih harus
diperhitungkan terhadap gaya yang besarnya 6-8 kali C peraturan.
Dari rumus di depan dapat dilihat bahwa
μ pengaruhnya sangat
besar pada struktur bila makin besar nilai μ nya maka makin besar
syarat daktilitasnya berarti makin ketat perencanan pendetailannya.
Kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat kurang baiknya pendetailan adalah :
- Penampang kurang daktail
- Kerusakan akibat penjangkaran yang kurang panjang
- Strut and Tie models yang tidak diperhitungkan dalm pendetailan
- Terlekuknya tulangan tekan.
Karena peranan daktilitas sangat besar pada kemampuan struktur untuk
memancarkan energi pada waktu terjadinya gempa besar maka pendetailan
yang baik sangat penting sekali dalam perencanaan struktur beton.
Pendetailan elemen-elemen di bawah ini penting untuk diperhatikan :
- Detail pondasi
- Detail dinding penahan
- Detail dinding
- Detail kolom
- Detil balok
- Detail plat
- Detail tangga
- Detail parapa
Pendetailan Pondasi
1. Dasar kolom dan poer
Syarat-syarat di bawah ini harus dipenuhi :
- Tulangan memanjang minimum 0,15% setiap arah.
- Tulangan-tulangan memanjang diangker pada sisi yang bebas.
- Tiang-tiang pondasi dan poer harus diikat menjadi satu kesatuan
secara baik dan penulangannya harus cukup agar dapat dihindari
terjadinya pemisahan antara poer dan tiang pondasi kibat terjadinya
pergerakan tanah.
2. Balok-balok pengikat pada pondasi
Bila tidak digunakan perhitungan analisa dinamis untuk struktur
bagian bawahnya maka balok-balok pengikat pada direncanakan terhadap
gaya longitudinal tarik/tekan sebesar 10% dari beban vertikal kolom di
mana balok pengikat tersebut bertemu. Karena gaya longitudinal dapat
berupa gaya tekan atau tarik maka syarat-syarat di bawah ini harus
dipenuhi :
- Persentasi tulangan memanjang minimum 1%.
- Persentasi tulangan memanjang maksimum 6%.
- Diameter minimum sengkang 8 mm.
- Jarak maksimum dan minimum dari sengkang seperti pada kolom.
- Diameter minimum tulangan memanjang 12 mm.
- Agar dasar pondasi atau Poer dapat dicor lebih dahulu sebelum
balok-balok pengikat maka dibutuhkan tulangan-tulangan stater dan harus
didetail.
- Bila terjadi gaya longitudinal tekan maka syarat-syarat perencanaan
elemen sama dengan perencanaan kolom, seperti tegangan tekan yang
diijinkan pengaruh-pengaruh kelangsingan dan ikatan-ikatan (jarak-jarak
sengkang) berdasrkan SKSNI T15-1991-03.
3. Balok pengikat yang menahan momen
Dalam beberapa keadaan di mana momen yang terjadi pada dasar kolom
harus disalurkan ke balok-balok pengikat maka balok-balok pengikat harus
direncanakan terhadap momen dan beban aksial tarik atau tekan.
Perencanaan penulangannya harus disesuaikan dengan syarat-syarat
balok atau kolom tergantung pada besarnya beban aksial syarat-syarat
penulangan maksimum dan minimum.
Pendetailan Dinding Penahan Tanah
Penetrasi tulangan minimum yang disyaratkan adalah 0,15% pada tiap
sisi pada kedua arah baik baik pada dinding maupun pada pondasinya.
Untuk mengendalikan retak maka digunakan tulangan horizontal yang lebih
banyak khususnya pada dinding tipis.
Tulangan atas dan bawah harus digunakan pada pondasinya agar keadaan
tarik akibat lentur yang tidak dapat diperkirakan oleh analisa statik
ekivalen dapat diatasi. Juga penulangan pada kedua sisi dari dinding
harus disediakan untuk dinding dengan tebal 150 mm atau lebih. Tulangan
pondasi harus dijangkarkan pada sisi bebas.
Pendetailan Dinding
Diameter minimum tulangan vertikal dan horizontal ≥ 10 mm. Di
beberapa negara direkomendasikan tulangan minimum untuk dinding baik
arah vertikal maupun horizontal adalh 0,125% pada setiap sisi ada juga
yang merekomendasikan sebesar 0,2%.
Pendetailan sekitar lubang pada suatu dinding harus dilakukan sesuai
dengan pendetailan pada lubang di plat lantai. Join konstruksi arah
horizontal harus dibersihkan dan dikasarkan.
Pendetailan Kolom
Perbandingan b/h dari kolom tidak boleh < 0,4 dan dimensi
minimumnya = 300 mm. Diameter tulangan yang digunakan pada kolom harus
> 12 mm. Diameter minimum sengkang untuk kolom harus 8 mm. Luasan
tulangan minimum untuk beban = 1% dari luas penampang dan luas tulangan
maksimum = 6%.
Pendetailan Balok
Balok harus mempunyai perbandingan lebar/tinggi > 0,3 dan lebar
balok hrus lebih besar dari 250 mm dan tidak boleh lebih besar dari
kolom yang mendukungnya ditambah ¾ kali tinggi balok.
1. Tulangan longitudinal balok
- Diameter minimum dari tulangan memanjang = 12 mm.
- Untuk mendaptkan daktilitas penampang yang cukup persentasi tulangan memanjang dibatasi maksimum 2,5%.
- Luas tulangan memanjang minimum
- Pemakaian tulangan geser miring sebaiknya dihindarkan.
- Pemutusan penulangan harus didasarkan bahwa sendi plastis yang
direncanakan tempat terjadinya harus dijamin lokasinya sehingga tidak
menimbulkan penampang-penampang kritis baru, pemutusan semua penulangan
pada satu tempat sebaiknya dapat dihindari.
- Kait dan bengkokan harus disesuaikan dengan SKSNI T15-1991-03
- Pada balok beton yang merupakan bagian struktur rangka terbuka
penahan beban gempa maka kapasitas momen positifnya harus minimal
sebesar 50% kapasitas momen negatifnya dan sedikit-dikitnya ada 2 buah
tulangan memanjang pada seluruh bentang balok.
- Sebaiknya untuk tulangan memanjang pada balok digunakan baja lunak untuk menjamin terbentuknya sendi plastis pada balok.
2. Sengkang pada balok
- Diameter minimum sengkang sebaiknya 8 mm.
- Penulangan sengkang minimum harus dipasang sejak 4 h dari ujung balok
- Gaya geser tidak boleh diterima oleh tulangan tarik miring.
- Sengkang yang lebih disarankan adalah sengkang tertutup, sengkang
terbuka juga dapat digunakan asalkan panjang penyalurannya cukup dan
diberi sengkang penutup.
- Bila syarat-syarat sengkang tidak ditentukan oleh perhitungan geser maka syarat minimum pendetailan balok harus dipenuhi.
Pendetailan Plat
Penulangan plat yang direncanakan untuk menahan beban-beban gravitasi
yang biasanya merupakan suatu kesatuan struktur balok dan lantai
berperilaku cukup baik sebagai penahan beban lentur dan sebagai
diafragma horizontal untuk menyebarkan gaya gempa.
Diameter minimum tulangan 8 mm. Tulangan tarik minimum pada setiap
arah dan pada kedua sisi harus sebesar 0,15% untuk tulangan mutu tinggi
dan 0,25% untuk baja lunak.
Tulangan pembagian minimum 0,15%. Untuk plat-plat kantilever harus
dipasang tulangan bawah untuk menghindari berbaliknya momen yang dapat
terjadi selama terjadinya gempa. Lubang-lubang pada lantai harus diberi
kerangka tulangan ekstra agar dapat menahan gaya-gaya diafragma selama
terjadinya gempa.
Pendetailan Plat dan Balok Tangga
Pada umumnya syarat-syarat yang berlaku pada plat juga berlaku untuk
tangga. Tulangan atas harus diberikan pada setiap bordes. Bila tangga
merupakan bagian diafragma horizontal atau penahan beban lateral maka
penulangan harus direncanakan sesuai dengan perhitungan dan perhatian
penuh harus diberikan pada perubahan sudut untuk menyambung penulangan
longitudinalnya.
Pendetailan Parapat
Parapat harus direncanakan dengan hati-hati dengan memperhatikan
aksi cambuk. Penulangan pada sudut pertemuan harus direncanakan seperti pada dinding.
3. DESAIN KAPASITAS
Pada struktur beton rangka terbuka persyaratan dasar perencanaan di
daerah gempa adalah bahwa batang-batang horizontal (balok-balok) harus
runtuh lebih dahulu sebelum terjadinya kerusakan-kerusakan pada
batang-batang vertikal (kolom-kolom). Dengan mengikuti persyaratan dasar
ini maka struktur beton dapat menunda keruntuhan totalnya.
Balok-balok dan plat beton pada umumnya tidak akan runtuh meskipun
sudah terjadi kerusakan yang besar pada lokasi sendi-sendi plastis
sedangkan kolom-kolom akan runtuh segera akibat beban vertikal walaupun
baru terjadi kerusakan-kerusakan kecil.
Dasar-dasar perencanaan di bawah ini penting untuk diperhatikan :
- Balok-balok harus runtuh lebih dahulu sebelum kolom-kolomnya
- Keruntuhan harus diakibatkan lentur bukan akibat geser
- Keruntuhan join-joint di antara batang-batang harus dihindar
- Keruntuhan daktail bukan keruntuhan getas yang harus dipilih.
Perlu Diperhatikan
1. Dalam peraturan SKSNI T15-1991-03 terdapat persyaratan khusus yang
berusaha untuk memperoleh keruntuhan balok terjadi dahulu dibandingkan
keruntuhan kolom, dengan
overstrength factor dan dynamic maghnification factor.
Untuk bangunan-bangunan yang sederhana dan bila tidak dikehendaki
perhitungan yang sulit dapat dilakukan dengan merencanakan struktur
dengan perhitungan tanpa desain kapasitas. Tetapi tulangan yang
didapatkan untuk perhitungan kolom diganti dengan tulangan dengan mutu
yang lebih tinggi (BjTD 40) sedangkan tulangan balok tetap menggunakan
baja mutu biasa (BjTP 24). Kelebihan kemampuan baja mutu tinggi beserta
tingginya kapasitas strain hardeningnya dapat memberikan kekuatan lebih
yang dibutuhkan. Kemampuan penggunaan baja mutu tinggi BjTD 40 cukup
untuk mengatasi kelebihan kekuatan balok.
2. Untuk menghindari keruntuhan geser yang getas sebelum terjadinya
keruntuhan lentur yang daktail dilakukan perencanaan sebagai berikut,
pada waktu tulangan lentur mencapai tegangan lelehnya maka tulangan
geser masih dalam keadan elastis (± 90% tegangan leleh). Untuk menjamin
keadan ini maka gaya geser yang didapat dari perhitungan analisa baik
yang dilakukan dengan cara manual maupun perhitungan komputer tidak
dapat digunakan begitu saja tetapi harus dimodifikasi sebagai berikut.

Keterangan :
M
o =
As.fsu.z
V
s = gaya geser akibat beban mati dan sebagian beban hidup
As = semua tulangan pada daerah tarik
fsu = tegangan maksimum (tegangan patah) dari baja tulangan setelah terjadi strain hardening 95 percentile dari benda uji baja.
Z = lengan momen

Pada lokasi sendi plastis peranan kekuatan beton V
c harus diabaikan dalam menahan gaya geser V
maks. Jadi V
maks < Φ V
s
3. Untuk menghindari keruntuhan geser pda kolom maka gaya geser pada konstruksi kolom dapat dihitung dari momen kolom dengan :

M
a = Momen kolom dengan tulangan yang terpasang atas
M
b = Momen kolom dengan tulangan yang terpasang bawah
Dengan beban N maksimum dan N minimum yang bekerja pada kolom dan
dengan tulangan yang terpasang pada kolom dengan menggunakan grafik
interaksi momen dan gaya normal dapat dicari momen dengan tulangan yang
terpasang.
4. Gaya aksial pada kolom dapat dihitung dengan cara-cara yang
sederhana dengan memadukan beban akibat beban-beban gravitasi dengan
beban akibat gempa. Untuk kolom-kolom luar, Gaya normal kolom = gaya
normal akibat beban gravitasi dan luasan
tributary + gaya geser balok yang terjadi akibat gempa sesuai M
o.

Untuk kolom-kolom dalam, karena gaya – gaya geser akibat gempa pada
struktur dengan bentang-bentang yang sama akan hampir sama saling
meniadakan maka

5. Join diantara batang-batang seperti pertemuan balok dengan kolom
sangat peka terhadap keretakan awal dibandingkan dengan batang-batang
yang didukungnya akibat kerusakan-kerusakan pada semua joinnya.
Untuk menghindari hal ini maka perencanaan join dilakukan dengan
konsep desain kapasitas dan dua mekanisme yang terjadi yakni terjadi
strut mekanisme dan truss mekanisme diperhitungkan dalam menahan
kelebihan beban.
Dalam peraturan-peraturan beton yang baru di seluruh dunia belum ada
kesepakatan dalam perencanaan. Kesepakatan yang belum dapat disatukan
adalah tentang ragam keruntuhan yang dapat diterima pada join balok
kolom. Ada yang mengharapkan join balok kolom tetap dalam keadaan
elastis, ada yang memperkenankan terjadinya kerusakan-kerusakan pada
join balok kolom asal perilakunya masih sangat daktail.
Dari teori-teori yang ada maka cara yang praktis dan ekonomis berdasarkan kapasitas pemancaran energi dari suatu
subbassemblage dengan menggunakan indeks kerja dari Ehsani & Wight.
Dengan menggunakan grafik hubungan antara tegangan geser join (γ) dengan flexural strength ratio M
r dapat ditentukan jumlah tulangan transversal yang dibutuhkan P
tm

bila mutu baja tulangan tidak sesuai dengan percobaan-percobaan yang
dilakukan dan dimensi join-joinnya juga tidak sesuai dengan percobaan
maka rumus P
t perlu dimodifikasi menjadi P
tm :
4. RANGKUMAN
Keruntuhan dari bangunan disebabkan karena struktur bangunan tidak
mampunyai kinerja yang baik pada saat terjadi gempa. Agar struktur
bangunan mempunyai kinerja yang baik pada saat terjadi gempa, ada 3 hal
yang harus diperhatikan dalam perencanaan struktur betonnya, yaitu :
tata letak struktur, desain kapasitas dan pendetailan. Dengan memenuhi
ketiga syarat-syarat tersebut, maka perencanaan struktur beton di daerah
gempa dapat dilakukan dengan sederhana, aman dan ekonomis.
Acuan dalam merencanakan tata letak struktur, yaitu : bangunan harus
mempunyai bentuk yang sederhana, bentuk yang simetris, tidak terlalu
langsing baik pada denahnya maupun pada potongannya, distribusi kekuatan
sepanjang tinggi bangunan seragam dan menerus, kekuatan yang cukup, dan
terbentuknya sendi plastis harus terjadi pada elemen-elemen horizontal
lebih dahulu dibandingkan dengan elemen vertikal.
Pada pendetailan, elemen-elemen yang harus diperhatikan, yaitu :
detail pondasi, detail dinding penahan, detail dinding, detail kolom,
detail kolom, detail balok, detail plat, detail tangga dan detail
parapat. Kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat kurang baiknya
pendetailan adalah : penampang kurang daktail, kerusakan akibat
penjangkaran yang kurang panjang, Strut and Tie models yang tidak
diperhitungkan dalam pendetailan, dan tertekuknya tulangan tekan.
Pada desain kapasitas, dasar-dasar perencanaan penting yang harus
diperhatikan, adalah : balok-balok harus runtuh lebih dahulu sebelum
kolom-kolomnya, keruntuhan harus diakibatkan lentur bukan akibat geser,
keruntuhan join-join diantara batang-batang harus dihindari, dan
keruntuhan daktail bukan keruntuhan getas yang harus dipilih.
Dalam perencanaan struktur beton tahan gempa, telah disyaratkan dalam
peraturan SKSNI T15-1991-03. Struktur beton selain mempunyai kekuatan
yang cukup juga mempunyai daktilitas yang besar yang dinyatakan dalam
nilai daktilitas struktur.